Posts

BERKAWAN SEPI

Sebagaimana sepi menjadi kawan karib kaum sufi, maka Ryu kini tengah asyik bersepi sunyi. Seminggu mengasingkan diri dari rumah, Ryu tak memilih tinggal di rumah sahabatnya Akbar, melainkan menginap satu malam di losmen murahan kemudian berpindah ke balai latihan kerja. Bukan karena ia tak disambut baik dengan koper besarnya, melainkan karena didikan bapak telah mengakar, untuk tidak berhutang budi selagi masih bisa berdiri sendiri, begitu budaya Jepang yang bapak percayai, karena  sekali berhutang budi, seumur hidup bekerja keras untuk melunasi. Ryu mengeluarkan amplop coklat pemberian bapak, dua puluh lembar uang pecahan sepuluh ribu yen terhampar di hadapannya, sebuah kunci yang ia yakini sebagai kunci apartemen bapak di Kyoto, dan sebuah sim card provider Jepang. Itu saja yang bapak berikan untuk bekalnya, Ryu berpikir sejenak,tentu saja bapak ingin dia berangkat ke Jepang dan semua ini bisa mempermudah dirinya saat tiba di sana.  Selanjutnya Ryu membuka buku rekeningnya, melihat t

PERPISAHAN

Hari itu bapak dan ibu tidak ke kampus, Ryu menurunkan koper besarnya ke ruang tamu saat ibu masih terisak seraya membereskan meja makan. Bapak keluar dari kamar kemudian memanggil ibu dan dirinya duduk di sofa. Diliriknya sekilas koper milik Ryu sebelum mulai membuka suara, tentu setelah berdehem seperti biasanya. “Apakah keputusanmu sudah kau pikirkan baik-baik? Seorang lelaki harus selalu siap menghadapi semua konsekuensi dari segala keputusannya. Sebagai sesama lelaki bapak sedikit banyak mengerti keputusanmu. Tapi ini akan berat bagi ibumu, jelaskan padanya apa yang membuatmu memiliki keputusan ini.” Kalimat bapak terdengar tegas dan jelas meski tanpa penekanan saat beliau mengatakannya. Matanya yang memiliki tatapan persis seperti Ryu menancap tepat pada netra putra sulungnya, seolah sedang menakar ketetapan hati Ryu jauh di dalam sana. “Tujuh belas tahun Ryu mendengar kisah petualangan hebat bapak dan ibu sampai akhirnya berada pada titik ini. Ryu ingin mulai membuat jejak Ryu s

KEPUTUSAN

Tekad Ryu sudah bulat, dikemasnya pakaian dan dokumen penting yang ia butuhkan. Kemudian ia bergabung dengan bapak dan ibu yang sudah kembali hangat pagi ini, tak ada sisa perdebatan di antara mereka, pertanda kata mufakat telah tercapai dan itu artinya sarapan pagi menjadi waktu menyampaikan hasil pembicaraan alot semalam. Ini bukan kali pertama terjadi dalam hidup Ryu.  Orang tuanya berdebat untuk memilih sekolah dasar, sekolah menengah, kursus yang harus Ryu ambil, nilai pelajaran dan hampir semua hal yang terjadi dalam hidup Ryu. Remaja itu sudah tahu kalau ibu akan mengedipkan mata pada bapak sebagai isyarat memulai pembicaraan, kemudian bapak akan berdehem dua kali sebelum menyebut namanya dengan nada yang sudah Ryu hapal.  Maka ketika bapak meraih gelas air minum kemudian berdehem dua kali, Ryu biasanya akan tetap makan sambil telinganya menyimak pesan bapak, sesekali ia menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan atau perintah bapak. Namun kali ini Ryu segera meletakan sendok

CEMBURU

Malam itu Ryu tidak tidur, memikirkan keputusan dan cara yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. Apabila ia harus mengikuti keputusan bapak untuk ke Jepang, maka ibunya yang seorang dosen bahasa salah satu PTN, hanya bisa mengunjunginya pada libur smester panjang. Berbeda dengan bapak yang memang memiliki kerjasama kemitraan dengan salah satu laboratorium di Tohoku University, bapak bahkan membeli rumah di sana, perjalanan ke Jepang sudah seperti hendak pergi ke pasar.  Ryu tahu alasan bapak memintanya melanjutkan sekolah di sana, tak lain agar ia yang tengah bergolak dimasa remaja, mendapatkan pelajaran hidup dari budaya dan cara hidup orang-orang sana. Sayangnya Ryu juga tahu alasan di balik itu, bapak ingin menjadikannya alasan untuk menetap di sana dalam kondisi ibu yang tidak mau melepas karirnya di sini.  Sebuah kebanggaan bagi Ryu menjadi anak dari dua orang guru besar ternama Indonesia, tapi tentu bukan tanpa tekanan dari lingkungan akademiknya. Remaja berambut hitam legam itu

ANO SORA

Ryu menatap langit-langit kamar, bukan karena lagi liatin cicak atau karena lagi memikirkan sesuatu, melainkan menyimak pembicaraan Ibu dan Bapaknya yang sangat serius, sengaja Ryu membuka pintu kamarnya sedikit agar suara mereka semakin terdengar.  “Shiranai!” Suara ibunya terdengar tak senang mengucapkan kata entahlah dalam bahasa Jepang itu. Ryu tahu kalau ibu sudah menggunakan bahasa Negeri matahari terbit artinya ia bersilang pendapat dengan bapak, ibu lebih bisa menekan emosi dengan meminjam bahasa asing. Itu pula yang membuat ibu memilih berbahasa Inggris atau Jepang jika sedang nenegurnya.  Terdengar suara pintu ditutup, sepertinya orang tua Ryu tak ingin perdebatan mereka diketahui anaknya, apalagi yang diperdebatkan adalah masa depan anak semata wayang mereka.  Ryu mencoba mencerna apa yang tadi ia dengar, bapak ingin mengirimnya untuk melanjutkan SMA di Jepang, sedangkan ibu enggan menemani Ryu di sana. Ryu benci pada kenyataan ibu dan bapaknya berdebat menentukan pilihan te

HINGGA BERBUAH BERKAH

Kita tak pernah tahu ujian dan musibah yang manakah yang akan menarik hidup hidupalam pusaran berkah. Adinda memulai praktik membuat kue-kue sederhana yang resepnya ia contek dari youtube. Berbekal harapan bahwa aktivitasnya akan membuat pikirannya beralih dari mengingat kepiluan yang terjadi, kue buatan Adinda diminati tetangga. Pesanan pun berdatangan, semula hanya laku 25 potong dalam satu hari, kini telah mencapai seratus pak kue sus dan pie mini. Sering dalam diam menakar adonan Adinda termenung kemudian berdzikir penuh syukur, mengingat kembali bagaimana upaya Gagah membawanya menjadi seorang istri yang produktif sebelum keguguran terjadi. Perasaan bersalah sempat mengabaikan Ali juga sering menyelinap dan membuatnya berlinang air mata. Bagaimana bisa seorang ibu menangisi kehilangan anak sementara anak yang lain membutuhkan kehadiran dan kasih sayangnya  Jauh di atas semua penyesalan dan rasa syukur yang Adinda alami, ada kekerdilan dari dirinya sebagai hamba yang mempertanyakan

NESTAPA

Dua pekan lamanya Adinda dirudung pilu, fase menyalahkan diri sendiri mulai menghampiri. Teringatlah Adinda pada betapa aktivnya ia meski telah melihat garis samar kedua pada urin pagi hari. Waktu tak dapat diputar ulang, syair penyesalan kini berdendang memenuhi ruang hati Adinda. Gagah selalu hadir dalam masa berkabung istrinya, sesering mungkin ia mendekap istrinya seraya membisikan kalimat menghibur. “Ingat tidak dokter bilang apa, Bu?” Gagah mulai mengusap lembut punggung Adinda saat didapatinya tengah terisak diam-diam, “tidak ada keguguran yang dapat diketahui pasti penyebabnya apa. Sebagian besar karena persoalan kromosom yang ibu lebih pahami daripada ayah, kelelahan dan aktivitas Ibu tidak bisa dijadikan kambing hitam, apalagi istri sholihah ayah pasti mengerti kalau semua sudah kehendak Alloh.” Adinda menumpahkan tangisnya di dada Gagah, hingga ia terlelap karena kelelahan.  Gagah mengucapkan kalimat itu untuk menghibur hatinya yang juga menangis pilu tanpa air mata. Jika bu